2019 di usiaku ke-21, aku telah hidup selama 21 tahun tanpa ayah bahkan sejak sebelum aku lahir. He left my mom.
My father left my mom, iya pas masih dalam kandungan. Januari 1998,
perempuan berusia 20 tahun merantau di Jakarta demi sesuap nasi. Ia
pergi bersama pria brengsek yang aku pun belum pernah melihatnya.
September 1998 ia pingsan di depan bangunan pabrik tempat bekerja. Saat
itu, ia sedang mengandungku. Kurang lebih usia kandungannya 9 bulan,
untung satpam pabrik sangat baik dan mengantar perempuan itu ke RS. Tak
selang beberapa lama, lahirlah aku.
Ke mana pria brengsek itu?
Dia sudah pergi sejak beberapa bulan yg lalu, bahkan ia tidak mau menengokku sama sekali.
Ibuku melahirkan di salah satu klinik di Jakarta, ya aku memang lahir di Ibu Kota.
Ibuku tak punya apa-apa, bahkan untuk membayar biaya persalinan Ia harus
meminjam satpam pabrik tersebut. Sungguh mulia hatimu, Pak. Aku tidak
tau jika tak ada engkau saat itu, mungkin aku tidak bisa bernafas hingga
saat ini.
Ibuku adalah orang yang kuat. Sosok yang mampu berperan ganda sebagai
seorang ayah. Ketika usiaku 7 hari, Ibuku memutuskan untuk pulang ke
kampung di Banjarnegara.
Ia menitipkanku pada kakek & nenek lalu kembali merantau untuk
mencari secercah penghidupan di Ibu Kota. GA ADA SEPESERPUN RUPIAH dari
ayah yg menempel di tubuhku. Baru pertama kali aku nanya ke Ibu pas
lebaran kemaren, "Mah, Ayah Bayu ada di mana?"
Ibu cuma bisa nangis sambil meluk. Ga tega liat beliau nangis. Jadi aku
akhiri saja obrolan waktu itu. Ada ataupun tidaknya ayah, sekarang aku
bahagia.
Bahkan, aku memanggil Kakek dengan sebutan Bapak, begitu juga memanggil Nenek dengan sebutan Ibu. Bahkan hingga saat ini.
Saat ini mereka hampir menginjak usia 70 tahun. Kulitnya sudah keriput, sakit-sakitan dan badannya pun mulai mengurus.
Sebuah pelukan hangat selalu aku berikan saat pulang dari kota perantauan.
Untuk Ibu dan Kakek/Nenekku. Terima kasih sudah membesarkan dan merawat
hingga usia 21 tahun. Masa-masa SD adalah masa terberatku. Tiap liat
temen2 pada dianter ke sekolah, aku ga pernah sama sekali. Hari pertama
kelas 1 SD pun aku berangkat sendirian.
Uang saku cuma Rp 100, kadang Rp 200, kadang malah ga dikasih uang saku karena emang ga ada uang sama sekali.
Kelas 3 SD aku jualan keripik dan buah2an di sekolah, tanaman buah milik
kakek (duku, rambutan, manggis). Lumayan buat uang saku.
Pernah juga cuma makan nasi + garam, nasi + bawang goreng doang. Ga ada
kendaraan selain sepeda othel, ke mana-mana pasti Kakek naik sepeda.
Motor ga punya, sepeda pun sepeda tua. Tiap ke dokter atau ke pasar,
selalu naik sepeda kalau gak becak.
Pengin banget naik motor, liat tetangga dan temen2 bikin iri.
Sekarang, roda udah berputar. Aku bisa kuliah, nyari uang sendiri, ke
luar negeri gratis, beli banyak hal pake uang sendiri. Semua ini gak
lain buat Ibu dan Kakek/Nenekku. Semoga sehat terus ya. Love you!
Bukan hal ringan yg aku lewati. Saat kecil, orang2 selalu bertanya "Ayahmu ke mana?"
"Sekarang yg biayain siapa?"
Pertanyaan yg selalu menyayat hati, bayangkan saja. Usia anak SD sudah dicerca pertanyaan seperti itu.
Oh iya, Happy Fathers Day to my Mom.
tulisan ini di ambil dari kolom komentar di video mas
Kunto Aji - Pilu Membiru Experience, yang di tulis Bayu Prasetya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar